Rest In Peace, Alrin

Aku terima sms dari Eldi minggu lalu.
"Gua dapat kabar dari Sari. Alrin meninggal karena Malaria 5 hari yang lalu"
Ga
kusangka. Alrin yang aku ga terlalu kenal dekat. Cuma beberapa kali
pernah ketemu dan kerja bareng. Terakhir kali waktu Konser Terima Kasih
PSM-ITB setelah World Choir Games 2006 di Xiamen, China. Alrin
mengiringi kami TLV Male menyanyikan beberapa lagu dengan permainan
pianonya (link ke posting yang lalu).
Eldi bilang, dia kaget banget karena baru berencana untuk merekrut Alrin untuk proyek berikutnya dengan TLV.
Sebelum
itu aku udah kenal Alrin dari beberapa proyek tapi jarang ketemu
setelahnya. Hanya saling menyapa dan ngobrol sebentar kalau ketemu di
jalanan ITB. Menurutku dia tipe pendiam yang ga ngomong banyak kalau ga
perlu. Tipe orang yang teduh tapi tetap menyenangkan untuk diajak
ngobrol. Dari obrolan kami, dia ga pernah belajar piano secara khusus,
tapi belajar sendiri karena senang aja. Untuk main piano di Bandung,
dia memanfaatkan piano di Aula Barat ITB yang nganggur siang hari.
Bagiku, dia bermain bagus dan aku mengagumi dia karena kecintaannya
terhadap piano itu.
Aku heran, kenapa meninggal karena Malaria?
Bukannya dia di Bandung? Bukannya obat Malaria udah ada sejak lama? Ya,
mungkin ini cuma pikiran-pikiran egoisku yang mencoba complain dengan apa yang terjadi.
Belakangan
dari Sari aku dapat info kalau Alrin kena Malaria saat berdinas di
Sulawesi, sebagai anak Geologi bertugas ke pelosok-pelosok daerah. Sari
juga ga terlalu yakin, tapi nampaknya penanganan terhadap sakitnya
Alrin terlambat dilakukan, sampai akhirnya dia meninggal 9 Juli lalu.
Ya,
I don’t know Alrin that much.. But I admire him. And I write this to
show that his life has indeed touch mine and I believe also many
others’.
Rest in peace, my friend.. For God loves you more than we do…

(taken from walkofcredo)
Eh, apa tadi? istrinya? Looh, Sidney Sheldon itu cowok toh?
Itu